
Foto: Rohadi sang pejuang kemerdekaan. ©2014 Selain Berita
Reporter: Benny Wijaya
Selain Berita - Rohadi, Pejuang Kemerdekaan Kini Jadi Tukang Becak | Tepat pada 17 Agustus 2014 nanti, bangsa Indonesia genap berusia 69 tahun. Namun, bagi Rohadi perayaan HUT RI ke-69 tak ubahnya seperti hari-hari biasa. Disaat warga lain merayakan HUT RI dengan suka cita, lelaki tua tersebut harus pontang-panting mengayuh becak demi mengais rezeki.
Rohadi, merupakan salah satu pejuang veteran kemerdekaan yang saat ini hidup di bawah garis kemiskinan. Bagi warga Trengguli III No 21, Kelurahan Karangkidul Kecamatan Semarang Tengah ini, memaknai hari kemerdekaan Indonesia cukup dengan mengenang masa-masa perjuangan dulu. Dia adalah salah satu tentara Dwikora pada masa pergolakan kemerdekaan tahun 1962 silam.
"Dulu saya ikut mempertahankan Kepulauan Tanjung Pinang di Sumatera saat Indonesia bersengketa dengan Malaysia," ujar pria berusia 71 tahun tersebut, Jumat (15/8).
Setelah masa perjuangan kemerdekaan usai, roda nasib Rohadi berbalik 180 derajat. 38 tahun berselang, dia kini harus menyambung hidup menjadi tukang becak. Dia mengaku, saat ini masih banyak rekan seperjuangannya yang bernasib sama. Bantuan dari pemerintah, juga tak cukup memenuhi kebutuhan hidupnya.
Rohadi berharap, pemerintah lebih memperhatikan nasib pejuang veteran agar bisa hidup lebih layak. Sebab, untuk sekarang penghasilannya sebagai pengayuh becak tak menentu.
Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Veteran Gedung Juang 45 Semarang, Suhartono. Menurut dia, banyak rekan seperjuangannya yang hidupnya sengsara dan miskin. Dari 1000 pejuang kemerdekaan di Kota Semarang, kini hanya tersisa 600 orang masih hidup.
"Dan mayoritas hidupnya susah. Banyak menjadi tukang parkir, tukang becak sampai hidupnya terkatung-katung," keluhnya.
Setiap eks pejuang, saat ini hanya mendapatkan tunjangan veteran yang diberikan pemerintah sekitar Rp 1,4 juta, tunjangan kehormatan Rp 250 ribu per bulan.
"Jumlah itu sangat tidak sepadan dengan upaya kita mempertaruhkan nyawa pada masa kemerdekaan. Bangsa kita kurang memperhatikan jasa perjuangan masa lampau. Kenapa tunjangan kehormatan hanya Rp 250 ribu saja? Padahal negara kita kaya," urainya.
Dia juga menyayangkan sikap generasi muda sekarang dalam memaknai HUT RI. Bila dulu masih terdengar riuh suara warga menyemarakan HUT RI, namun kini semangat kaum muda semakin luntur.
"Kami harap, pemerintahan baru nanti harus bisa mengelola negara dengan jujur, bermartabat," ungkapnya.