
Foto: Rusunawa Marunda. ©2012 Selain Berita
Reporter: Chandra Wicaksana
Selain Berita - Pemda Dituding Jadi Biang Kerok Rusunawa Sepi Peminat | Kementerian Pekerjaan Umum melalui Dirjen Cipta Karya menyatakan kendala pihaknya dalam pembangunan rusunawa selama ini lebih kepada kesiapan lahan. Pemerintah daerah sebagai pihak penyedia lahan tidak menyiapkan secara maksimal.
"Kendala itu di kesiapan lahan, pihak Pemda mengajukan ke kita kalau betul-betul butuh rusunawa minta dibangunkan, katanya lahan sudah siap tapi setelah kita cek belum ada, masih berupa kebon ini kan butuh biasa banyak pemerataan lahannya," kata Dirjen Cipta Karya, Imam S. Ernawi, kepada merdeka.com, Jakarta, Minggu (10/8).
Kendala lainnya, lanjut Imam, ialah setelah rusunawa selesai, pihak pemda terkait tidak segera menempatkan warganya dengan alasan kesiapan listrik dan air belum ada. Padahal, jika listrik dan air disiapkan dari awal proses pembangunan fisik berjalan, maka tidak ada kekosongan hunian.
"Harusnya kan waktu kita bangunkan rusun itu dibentuklah unit pengelola rusunnya, jadi setelah rusun selesai langsung bisa dihuni, enggak terjadi kekosongan, ini sering terjadi seperti itu. Makanya saya minta Pemda ikut berpartisipasi jangan menggebu-gebu waktu awal saja," jelas dia.
Pemerintah mencatat pada tahun ini menganggarkan sekitar Rp 1,33 triliun untuk membangun 87 rusunawa. Namun, dari 87 rusunawa itu, hanya 67 tower akan diselesaikan tahun ini.
Pembangunan rusunawa ini bekerja sama dengan pemerintah daerah di seluruh Indonesia untuk menyediakan hunian laik bagi warga. 67 Tower rusunawa merupakan program lanjutan dari 2013 dan sebanyak 20 tower rusunawa adalah program 2014 dan ditargetkan selesai tahun depan.
Menurut Imam, anggaran pembangunan rusunawa ialah sebesar Rp 14 miliar per tower, kecuali untuk DKI Jakarta sebesar Rp 68 miliar per tower. Dari 67 tower rusunawa terdapat 2 tower untuk DKI Jakarta.
"Kita tahun ini ada 87 rusunawa yang dibangun, tapi yang 67 itu lanjutan dari tahun lalu dan diselesaikan tahun ini. Untuk anggaran rata-rata Rp 14 miliar ya kecuali Jakarta," ujar Imam.
Imam mengaku rusunawa di luar DKI Jakarta akan dibangun 5 lantai per satu tower. Sedangkan, untuk DKI Jakarta, seperti yang dibangun di Jatinegara Barat terdiri dari 2 tower dengan 16 lantai.
"Kenapa DKI Jakarta lebih tinggi dibanding lainnya karena memang kelangkaan lahan yang terbatas," kata dia.