Kenaikan Harga LPG 12 Kg Berpotensi Timbulkan Migrasi Konsumen | Selain Berita

Kenaikan Harga LPG 12 Kg Berpotensi Timbulkan Migrasi Konsumen


Kenaikan Harga LPG 12 Kg Berpotensi Timbulkan Migrasi Konsumen



Foto: Harga elpiji 12 kg naik. ©2014 Selain Berita


Reporter: Faiz Abidin





Selain Berita - Kenaikan Harga LPG 12 Kg Berpotensi Timbulkan Migrasi Konsumen | Pengamat energi Singgih Widagdo menyatakan rencana PT Pertamina (Persero) menaikkan harga gas elpiji 12 Kg pada tahun depan akan berdampak migrasi ke tabung 3 Kg. Oleh karenanya, Pertamina harus melakukan pemetaan pengguna gas 3 Kg yang selama ini telah terdistribusi dari elpiji 12 Kg.





"Tentu kalau ada pengalihan penggunaan harus dilakukan pengawasan biar tidak ada penimbunan dan permainan harga di tingkat distributor," jelas dia kepada merdeka.com, Jakarta, Minggu (10/8).





Sementara, Singgih memprediksi pengaruh kenaikan harga ini kecil pada inflasi. Pasalnya, elpiji 12 Kg lebih banyak dikonsumsi warga mampu. "Kalau ke inflasi memang ada tapi kecil pengaruhnya," ujarnya.





Menurutnya, kenaikan harga akan terjadi pada harga makanan produk restoran dan UKM. Singgih menilai kenaikan harga gas elpiji 12 Kg memang kebijakan Pertamina sebagai korporasi. Hal ini mengingat ada kerugian jika nilai jual bahan bakar non subsidi masih tetap.





Sebelumnya, PT Pertamina sudah mengirimkan surat kepada Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Isinya adalah pemberitahuan, bahwa BUMN energi itu hendak menaikkan harga jual tabung gas elpiji 12 kilogram (Kg).





Seperti rencana tahun lalu, penaikan harga kembali harus diambil lantaran Pertamina merugi dalam bisnis elpiji.





"Surat (Pertamina) sudah diterima," kata Menko Perekonomian Chairul Tanjung sebelum menggelar rapat pengembangan teknologi informasi di kantornya.





Dari keterangan Vice President LPG and Gas Product Pertamina, Gigih Wahyu Irianto, pihaknya tetap merugi akibat pelemahan kurs. Mayoritas bahan baku elpiji yang dibeli mengacu pada Contract Price Aramco. Alhasil, penaikan harga awal tahun ini sebesar Rp 1.000 per kilogram tidak memadai, dan Pertamina merugi Rp 6 triliun.





Dalam rencana Pertamina, kalau pemerintah mengizinkan, maka pihaknya ingin pada 1 Januari 2015 nanti ada kenaikan Rp 1.500 per kilogram. Harga kembali naik bertahap pada 1 Juli 2015 juga sebesar Rp 1.500 per kilogram. Proses sama diulang lagi awal 2016.





Harapan Pertamina, pada 1 Juli 2016 harga jual elpiji 12 kilogram non-subsidi sudah sesuai keekonomian, yakni Rp 180.000 per tabung.


Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda