Boekhandel Tan Khoen Swie, Jejak Penerbitan Lama Yang Melegenda | Selain Berita

Boekhandel Tan Khoen Swie, Jejak Penerbitan Lama Yang Melegenda


Boekhandel Tan Khoen Swie, Jejak Penerbitan Lama Yang Melegenda



Foto: Ilustrasi Rel Kereta. ©2012 Selain Berita


Reporter: Benny Wijaya





Selain Berita - Boekhandel Tan Khoen Swie, Jejak Penerbitan Lama Yang Melegenda | Bagi generasi muda sekarang tak banyak yang tahu, jika Kota Kediri, sebuah kota kecil yang hanya terdiri dari tiga kecamatan di Jawa Timur ini pernah memiliki orang hebat, bermodal dan memiliki idealisme untuk meningkatkan derajat bangsa Indonesia di awal abad ke-19.





Orang itu justru bukan asli pribumi. Dia keturunan Tionghoa bernama Tan Khoen Swie. Tak ada yang tahu persis kapan Tan Khoen Swie dilahirkan. Namun, dari berbagai keterangan keluarganya yang diwawancarai merdeka.com, diperkirakan ia lahir di Wonogiri, Jawa Tengah, sekitar tahun 1833.





Gagah, rambutnya panjang dikuncir, berkumis itulah gambaran tokoh yang vegetarian hingga akhir hidupnya sekitar tahun 1953.





Keterangan Drg Jojo Sutjahjo Gani, cicit Tan Khoen Swie, kakek uyutnya adalah orang yang ulet dan berpendirian. Sebelum datang ke Kediri berbagai pekerjaan pernah ia lakukan salah satunya sebagai tukang rakit penyeberangan di Bengawan Solo.





Karena tekadnya yang luar biasa, selama merantau di Surakarta, Tan Khoen Swie sering mencuri dengar pelajaran di Sekolah Kesatrian milik Sri Sunan Pakubuwono di Kraton Surakarta.





"Usahanya mencuri dengar itu akhirnya ketahuan, kemudian oleh guru yang mengajar di sekolah kesatrian dipanggil dan disuruh ikut belajar," terang Gani panggilan akrab Drg Jojo Sutjahjo Gani.





Tak banyak cerita bagaimana kisah selanjutnya, Tan menikah dengan gadis asal Surabaya bernama Liem Gien Nio. Setelah menikah inilah dia mencoba memulai usahanya di Kediri sebagai penerbit.





Namun, saat itu usahanya tak bisa diandalkan lantaran ketatnya aturan pemerintah kolonial tentang usaha penerbitan membuatnya memiliki usaha sampingan, salah satunya berdagang kerupuk, onderdil mobil hingga SPBU.





Penerbit TKS sendiri lahir sekitar tahun 1915, beberapa tahun sebelum Balai Pustaka penerbitan besar di Jakarta yang dipelopori pemerintah Belanda berdiri sekitar tahun 1918. Boekhandel TKS sendiri merupakan penerbitan yang memiliki tim yang handal. Tak tanggung-tanggung TKS banyak dibantu oleh penulis-penulis Tionghoa, seperti Tjoa Boe Sing, Tan Tik Sioe (Pangeran Penang,red), Sioe Lian, Tjoa Hien Tjioe, dan Tan Soe Djwan.





Selain itu sebagai penerbitan bergengsi yang berada di jantung Ibukota Kediri tepatnya di Jalan Doho yang pernah sebagai pusat kerajaan Kediri, TKS tidak segan-segan mengundang para penulis dari berbagai daerah untuk bekerja sama sebagai mitra.





Pujangga-pujangga terkenal dari Kraton Surakarta seperti Ki Padmosusastro, R Tanoyo juga ikut merasakan manfaat TKS. Tak terbayangkan, tanpa TKS mungkin karya-karya besar mereka tak bakalan dikenal masyarakat luas.





Pada zamannya boekhandel TKS merupakan penerbit besar dan ternama, meskipun beroperasi dari kota kecil, Kota Kediri.





Kehadiran penerbitan TKS tentu saja ikut menandai era buku, menggantikan tradisi tutur yang sebelumnya banyak berkembang di Jawa. Sebuah era baru dalam penggandaan karya (tulis) yang sebelumnya hanya dikenal dalam bentuk tedhakan (turunan yang ditulis tangan).


Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda