
Foto: Panglima TNI Jenderal Moeldoko. ©2014 Selain Berita
Reporter: Billy Nurkholis
Selain Berita - 230 Ribu Angkutan Jateng Akan Berdampak Pembatasan Solar Bersubsidi | Ketua DPC Organda Kota Semarang Wasi Darono, mengatakan kebijakan pembatasan subsidi solar oleh pemerintah akan berpengaruh pada 500-an bus di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Tidak hanya itu, sebagian kecil dari 3.000 angkot yang berbahan bakar solar juga akan terpengaruh.
"Kami sampai saat ini belum mendapat tembusan apapun dari pemerintah. Perkiraannya, angkutan yang jelas terpengaruh adalah angkutan barang dan ekonomi. Yang menetapkan tarif ekonomi kan pemerintah," ucapnya saat dikonfirmasi di Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (04/08).
Wasi berujar akan segera mengoordinasikan pembatasan solar bersubsidi itu pada rekan pengusaha secepatnya. Menurut dia jika pemerintah berkukuh, mau tidak mau para pengusaha angkutan umum akan menaikkan tarif. Tentunya dengan koordinasi terlebih dahulu.
Sekretaris Eksekutif Organda Jateng Edhi Sugiri, menyebutkan jumlah angkutan yang terpengaruh mencapai ratusan ribu. Ia menyebut di Jawa Tengah ada 230 ribu angkutan barang yang menggunakan solar dan 13 ribu bus AKAP-AKDP. Kedua jenis itu bakal terpengaruh langsung.
"Tidak mungkin kan angkutan barang cuma beroperasi pada siang hari? Bus Solo - Semarang juga 24 jam, apa ya mau penumpang naik jika tarifnya naik. Contohnya angkutan Sukorejo - Temanggung yang biasanya Rp 10 ribu, bisa naik hingga Rp 20 ribu," tuturnya.
Edhi mengungkapkan, pembatasan solar bersubsidi jelas akan membuat inflasi. Karena itu, ia hendak mengusulkan pada gubernur Jawa Tengah agar angkutan umum dan angkutan barang tetap diberi subsidi 24 jam.
Dalam waktu dekat, Edhi akan mengumpulkan ketua DPC Organda Sejateng untuk membahas kebijakan tersebut. Sebab, hingga kini belum ada sosialisasi dari pemerintah terkait kebijakan itu. "Besok kami akan rapat membahas hal itu," ungkapnya.
Edhi mengaku tidak bisa membayangkan jika para sopir angkutan barang mogok karena masalah ini. Tiga hari mogok, Indonesia bisa jadi sorotan internasional karena arus barang yang kacau.
Yakob Suwardi (60)sopir angkutan kota trayek Johar-Banyumanik di Kota Semarang juga langsung ikut merasa resah dengan kabar pembatasan solar bersubsidi. Meskipun sebagian besar angkot menggunakan premium, kendaraannya berbeda. Angkutannya menggunakan solar.
"Jelas berat kalau dibatasi, kami kalau mau menaikkan tarif saja pasti susah," katanya ditemui di kawasan Kota Lama Semarang, Jawa Tengah.
Yakob mengatakan baru tahu kabar itu dari obrolan dengan sopir lainnya. Namun, untuk praktiknya ia belum tahu. Yang jelas, jika solar bersubsidi dibatasi, bisa operasionalnya jelas akan meningkat.
Warga Semarang Tengah itu mengatakan dalam sehari bisa menghabiskan uang Rp 100 ribu hingga Rp 120 ribu untuk membeli solar. Pendapatan yang di bawanya pulang pun hanya sekitar Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu per harinya.
"Kalau pakai solar non-subsidi ya pendapatannya jelas turun," ujarnya.